Thursday, January 29, 2009

Limit Waktu Atas Sebuah Perasaan

Ini merupakan kelanjutan dr blog sebelumnya "Aku Sayang Dia".

Di jam yang sama saat aku nulis blog ini, kemarin aku msh ada di kantor sedang menunggu tuk shooting Anggun. Ruang Aqualounge sangat sepi, hanya ada aku dan randi. Musik pun tidak dipasang. Kami sibuk dengan komputer masing-masing. Sampai akhirnya aku membuka pembicaraan tentang si 'dia'. Aku menceritakan tentang apa saja yang akhir-akhir ini terjadi antara aku dan 'dia'. Sedikit mengungkit kejadian masa lalu yang membuat aku sakit dan menjaga sikapku kepada'nya'.

Randi memberikan pemikiran-pemikirannya atas apa yang ku ceritakan. Sampai pada kesimpulan, "Jangan memberikan hatimu 100% utuh kepada org yang kamu cintai, berikanlah setengahnya saja". Randi juga menyarankanku tuk membuat limit waktu sampai kapan aku akan bertahan dengan posisiku. Inilah yang menjadi perdebatan.

...Limit Waktu Atas Sebuah Perasaan...


Perasaan...
Terkadang sebuah perasaan itu sulit tuk digambarkan. Tetapi ekspresi adalah bentuk atau penggambaran dari sebuah perasaan (maz ardi said). Dan untuk hal yang ku alami saat ini, sebenarnya tidak bisa ditentukan dengan waktu. Rasa sayang adalah perasaan yang tulus dari dasar hati. Tulus dan sabar hampir sama. Kesamaannya adalah tidak ada batas waktu untuk menemukan ujungnya. Dua hal itu saling terkait.

Menjawab pertanyaan, "Sampai kapan ku akan teruz bertahan?". Sampai aku benar-benar lelah dan tak punya tenaga tuk bertahan, itulah limit waktunya.

Kemudian aku pun berpikir...
Aku tidak mempedulikan lagi apa posisiku untuk'nya', asal hubungan kami tetap baik, apa pun posisiku aku akan menerimanya. Kalau gt, kenapa aku meributkan hal ini yah?!? Hubungan yang ada saat ini pun sangat baik. 'Dia' care denganku, begitu pun aku terhadap'nya'. Jadi ingat kata-kata Randi, "Mungkin dia sedang benar-benar berpikir nad, apa lo memank yang terbaik untuknya". Usianya juga bukan usia yang bisa main-main lagi dalam hal hubungan dengan lawan jenis. Dari situ aku tersadar, mungkin memank benar yang dibilang randi. 'Dia' butuh waktu tuk ngeyakinin perasaannya sendiri.

Saat ini mungkin aku akan diam di tempat, kalau ada moment tuk aku bs melangkah maju, aku akan mengangkat kakiku tuk maju melangkah. Menikmati apa yang ada saat ini, tidak berharap yang macam-macam.

Sampai kapankah cerita ini akan terus berlanjut??
Sampai Limit Waktu Atas Perasaanku berhenti. Timbul pertanyaan baru: "Apakah yang aku lakukan saat limit waktu itu tiba?". Yang jelas disaat yang bersamaan dengan itu, aku udah harus siap tuk jauh dari 'dia' atau lebih pahitnya ialah menutup buku kenangan qta.

3 comments:

  1. manusia bermimpi dan Allah yang mengiyakan. manusia punya mau dan Allah tau betul apa yang manusia butuhkan. mau adalah ego butuh adalah kenyataan. perasaan adalah keduanya. menyayangi seseorang tanpa pamrih adalah ketulusan, dan itu datengya dari hati. tapi menyayangi seseorang bukan berarti meladeni 100% apa yang diinginkan seseorang itu. bener kata randi soal 'berikan setengahnya saja', karna apa? karna kita nggak pernah tau ujung dari suatu jalan sampe kita melalui jalan itu. jangan sampai segala daya kita habis, karna kl sampe habis kita akan susah melakukan turning point ketika ternyata jalan yang kita ambil salah. i've been there before. u know that clearly.. dan lo liat sendiri apa yang terjadi ketika seseorang kehabisan daya untuk mempertahankan dirinya sendiri.

    seperti halnya mata air napoo, dia akan terus mengalirkan air semaksimalnya, dan walau kemarau mata air nggak akan kering, setidaknya dia masih akan memproduksi air buat daerah sekitarnya. pernahkah terbayang seberapa banyak air yang ada di dalamnya? brapa banyak yang dia keluarkan, dan brapa banyak yang kita ambil tiap hari untuk kita pakai. itu ketulusan.

    bangun limit lo dengan hati, bukan dengan akal, tapi jangan pernah menutup diri untuk hati yang lain hanya karna alasan limit hati, because we'll never know..

    ReplyDelete
  2. yaaahh..we'll never know. itu jawaban yg tepat atas pertanyaan limit hati.

    tulisanku di atas jg bkn merupakan suatu keputus-asaan. hanya ingin belajar tulus ikhlas (seperti yg dikatakan icha di atas) dalam menyayangi seseorang.

    ReplyDelete
  3. limit waktu perasaan....
    rumit ya kedengarannya, gw sendiri ampe sekarang ga pernah paham secara mendasar bagaimana, apa, dan bla bla tentang hal ini..hanya garis besar

    tapi yang pasti limit waktu itu ga boleh jadi rintangan untuk bisa mengejar impian, tujuan hidup, bahkan mungkin membuka hati untuk seseorang yang lain..
    bukan berarti main hati lho, menemukan kapan limit waktu perasaan itu juga bisa berarti buang buang waktu kan....

    tapi itu semua tergantung sudut pandang masing2 orang, kekuatan hati masing2 orang, jadi jika hanya terus2an bertanya tentang sampai kapan ini akan terus berlanjut??
    gw bisa jawab gw lah yang harus menentukan...bukan dia, karena ini ttg limit waktu perasaan gw..
    control yourself walaupun ga segampang itu realisasinyaa...dukung juga dgn keyakinan penuh

    dan klo ada pertanyaan lagi apakah yang akan aku lakukan saat limit waktu itu tiba??
    what will be,,will be..i am trying to do my best..

    hmm,,mungkin karna gw lebih suka yang praktis jadi jangan terlalu dipikirkan dan dijadikan beban...

    ReplyDelete